Sabtu, 16 Maret 2013
Jumat, 15 Maret 2013
“Manusia adalah mahluk hidup dimuka bumi yang paling ajaib …”
“Manusia
adalah mahluk hidup dimuka bumi yang paling ajaib …”
Pernyataan
diatas adalah fakta alami yang tak bisa dipungkiri, jadi anda sebenarnya
memiliki kehebatan dalam diri anda yang belum anda pergunakan.
Anda
sebenarnya memiliki kehebatan dalam diri anda untuk dapat melakukan semua yang
anda inginkan. Anda memiliki kekuatan yang hebat, yang dapat merubah nasib
anda, mencapai sukses dalam kehidupan anda.
Anda
adalah pemilik kekuatan hebat tersebut, dimana bila anda mulai menggunakannya
dengan baik, akan membuka jalan anda untuk mencapai kebahagiaan, kesehatan,
kekayaan dan panjang umur…
Ya,
anda adalah anggota dari mahluk hidup yang dinamakan “Ciptaan Tuhan Yang Paling
Ajaib, manusia…!!!”
Pada
saat mahluk hidup lainnya masih berjuang untuk mampu hidup menyesuaikan diri
dengan lingkungan alam kehidupan, nenek moyang anda sudah mampu menyesuaikan
diri dengan lingkungan alam dan sudah mampu merubah lingkungan alam agar sesuai
dengan kemauannya.
Manusia
telah menundukan alam dan melanjutkan melakukan berbagai penemuan baru dan
menggunakan berbagai mistery kehidupan.
Anda
dapat memanfaatkan berbagai temuan mereka dan memanfaatkan kekuatan gaib yang
mereka temukan juga. Kekuatan ini sangat luas sekali, lebih luas dari apapun
yang pernah anda bayangkan sekarang ini.
Dengan
membaca dan mempelajari buku ini, anda akan mengetahui bahwa anda akan mampu
mendapatkannya bagi kebaikan hidup anda.
Walaupun
manusia sebenarnya memiliki potensi kehebatan yang luar biasa dalam dirinya,
tapi kenyataannya mereka kebanyakan tak mengenal baik potensinya tersebut.
Mereka
umumnya hanya mengenal dirinya ibarat hanya mengenal lapisan kulit tubuhnya
saja, tidak tahu isinya yang lebih dalam, bahwa ada daging, tulang dan
jantung….dll.
Keajaiban
manusia mirip dengan keajaiban alam semesta yang sangat penuh mistery, tapi
potensi keajaiban manusia sebenarnya lebih mungkin diungkapkan, dikuasai dan
dimanfaatkan, karena semua itu ada dalam diri anda sendiri…!!!.
Anda
selama ini mungkin tak pernah berbuat apa apa untuk menyelidiki tentang potensi
anda yang tersembunyi. Padahal, kalau anda sudah berhasil menemukan potensi
kehebatan kekuatan anda yang sangat besar dan anda sudah mulai menggunakannya,
maka kemampuan anda akan menjadi tak terbatas…!!!
“Anda
memiliki Anugerah Emas…”
Anugerah
Emas tersebut adalah Otak anda.
Didalam
otak anda terdapat kekuatan yang mampu memanfaatkan sumberdaya yang belum bisa
digunakan.
Otak
dan alam fikiran yang ada didalamnya adalah aset yang sangat berharga.
Anugerah
emas ini memberi anda kekuatan untuk mampu mengontrol semua hal yang penting
bagi kesuksesan hidup anda.
Anda
menggunakan otak anda setiap hari, tapi selama ini tak menggunakannya secara
optimal.
Dalam
bab ini, anda akan diberitahukan tentang bagaimana menggunakan otak anda dengan
optimal. Anda akan mendapat kemajuan besar dalam menggunakan kekuatan pikiran
anda.
Kekuatan
pikiran anda akan membuat anda lebih bahagia, lebih sehat, lebih fit, panjang
umur dan lebih sukses.
Intinya,
kekuatan pikiran anda akan memberikan anda kemampuan untuk mengontrol dan
mengendalikan semua aspek penting dalam seluruh hidup dan kehidupan anda…!!!
Sebelum
anda mulai mempelajari tentang otak dan kekuatan alam pikiran yang ada
didalamnya, marilah sejenak melihat kebelakang, kemasa beberapa abad yang lalu,
untuk mempelajari dan mengetahui apakah manusia itu dan apapula pikiran manusia
itu. Darimana manusia itu berasal dan mengapa manusia memiliki pikiran.
Teory
tentang asal muasal manusia, beraneka ragam, tergantung siapa yang menceritakannya.
Walau
ada perbedaan antara cerita dari berbagai Kitab Suci dengan para ilmiawan, tapi
pada dasarnya, manusia diciptakan sebagai mahluk “Creator/Pencipta”.
Sejarah kehidupan nenek moyang manusia
membuktikan bahwa manusia memiliki kelebihan dari mahluk bumi lainnya karena
memiliki kecerdasan intelektual, mempunyai kekuatan pikiran, sehingga mampu
menyesuaikan diri dengan alam dan mampu 4 Disiplin Sukses
4
Disiplin Sukses:
1.
Disiplin Diri
1.1.
Menjadi Pembelajar terbaik.
1.2.
Melakukan kebaikan setiap hari.
1.3.
Memimpin dengan keteladanan.
1.4.
Meningkatkan ketaqwaan dari waktu ke waktu.
2.
Disiplin Muslim
2.1.
Senantiasa bersabar.
2.2.
Senantiasa bersyukur.
2.3.
Selalu kembali kepada Al- Qur'an dan Al-Hadist.
2.4.
Ambil bagian membangun agama dan bangsa.
3.
Disiplin Bisnis
3.1.
Menguasai pemasaran.
3.2.
Menguasai Cashflow.
3.3.
Memutuskan dengan intelektual.
3.4.
Bertanya kepada yang lebih ahli.
4.
Disiplin Keuangan
4.1.
Sedekah minimal 10% dari penghasilan
4.2.
Menabung minimal 10% dari penghasilan
4.3. Hidup semurah mungkin
4.4. Membiasakan berpikir investasi 10
jam dalam sebulan
KEBIASAAN ORANG SUKSES
Sukses adalah hak setiap orang, dengan mengenal jalan untuk sukses berarti kita telah selangkah menuju sukses. Semoga bermanfaat
Pertama, kebiasaan bertanggung jawab ( proactive ).
Kedua, kebiasaan berorientasi pada tujuan ( begin with the end in mind ).
Ketiga, kebiasaan mendahulukan yang utama ( put first things first ).
Keempat, kebiasaan berpikir menang-menang ( think win/win ).
Kelima, kebiasaan memahami terlebih dahulu, baru kemudian dipahami ( seek first to understand, then to be understood ).
Keenam, kebiasaan bersinergi ( synergize ).
Ketujuh, kebiasaan melakukan perbaikan diri secara terus menerus ( sharpen the saw ).
Kedelapan, kebiasaan menemukan panggilan jiwa dan mengilhami orang lain menemukan panggilan jiwa mereka ( find your voice and inspire others to find theirs ).
Voice adalah semacam potensi terpendam ( energi spiritual ) yang menggerakkan, memotivasi dan menginspirasi kita untuk mencapai greatness. Untuk mencapai greatness kita tidak cukup hanya memiliki IQ ( visi, kompetensi, pengetahuan, intelegensia ) dan EQ ( motivasi, empati, keuletan ) tetapi juga SQ ( suara hati yang ditiupkan oleh Allah pemilik Asmaul Husna dalam God Spot atau bagian lobus temporal otak kita ). Untuk mencapai greatness tidak cukup hanya memiliki talent ( IQ ) dan passion ( EQ ), tetapi juga conscience ( SQ )
Pertama, kebiasaan bertanggung jawab ( proactive ).
Kedua, kebiasaan berorientasi pada tujuan ( begin with the end in mind ).
Ketiga, kebiasaan mendahulukan yang utama ( put first things first ).
Keempat, kebiasaan berpikir menang-menang ( think win/win ).
Kelima, kebiasaan memahami terlebih dahulu, baru kemudian dipahami ( seek first to understand, then to be understood ).
Keenam, kebiasaan bersinergi ( synergize ).
Ketujuh, kebiasaan melakukan perbaikan diri secara terus menerus ( sharpen the saw ).
Kedelapan, kebiasaan menemukan panggilan jiwa dan mengilhami orang lain menemukan panggilan jiwa mereka ( find your voice and inspire others to find theirs ).
Voice adalah semacam potensi terpendam ( energi spiritual ) yang menggerakkan, memotivasi dan menginspirasi kita untuk mencapai greatness. Untuk mencapai greatness kita tidak cukup hanya memiliki IQ ( visi, kompetensi, pengetahuan, intelegensia ) dan EQ ( motivasi, empati, keuletan ) tetapi juga SQ ( suara hati yang ditiupkan oleh Allah pemilik Asmaul Husna dalam God Spot atau bagian lobus temporal otak kita ). Untuk mencapai greatness tidak cukup hanya memiliki talent ( IQ ) dan passion ( EQ ), tetapi juga conscience ( SQ )
Selasa, 26 Februari 2013
5 Jenis kecerdasan manusia
1. Intellegent Quotient (IQ)
Kecerdasan Pikiran ini merupakan kecerdasan yang bertumpu kemampuan otak kita untuk berpikir dalam menyelesaikan masalah. Jika kita mengikuti Psikotes, ada banyak soal yang menuntut kejelian pikiran kita untuk menjawabnya, misalnya soal mengenai delik ruang seperti bentuk ruang kubus yang diputar-putar akan menjadi seperti apa. Soal ini bertujuan untuk melihat kemampuan pikiran kita dalam menyelesaikan suatu masalah dari berbagai sisi.
Sudah bertahun-tahun dunia akademik, dunia militer (sistem rekrutmen dan promosi personel militer) dan dunia kerja, menggunakan IQ sebagai standar mengukur kecerdasan seseorang. Tetapi namanya juga temuan manusia, istilah tehnis yang berasal dari hasil kerja Alfred Binet ini (1857 – 1911) lama kelamaan mendapat sorotan dari para ahli dan mereka mencatat sedikitnya ada dua kelemahan (bukan kesalahan) yang menuntut untuk diperbaruhi, yaitu:
a. Pemahaman absolut terhadap skor IQ
Steve Hallam berpandangan, pendapat yang menyatakan kecerdasan manusia itu sudah seperti angka mati dan tidak bisa diubah, adalah tidak tepat. Penemuan modern menunjuk pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu hanya 42% yang dibawa dari lahir, sementara sisanya, 58% merupakan hasil dari proses belajar.
b. Cakupan kecerdasan manusia : kecerdasan nalar, matematika dan logika
Steve Hallam sekali lagi mengatakan bahwa pandangan tersebut tidaklah tepat, sebab dewasa ini makin banyak pembuktian yang mengarah pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu bermacam-macam. Buktinya, Michael Jordan dikatakan cerdas selama berhubungan dengan bola basket. Mozart dikatakan cerdas selama berurusan dengan musik. Mike Tyson dikatakan cerdas selama berhubungan dengan ring tinju.
2. Emotional Quotient (EQ)
Disebut juga kecerdasan Emosi. Kecerdasan Emosi ini didasarkan kepada kemampuan manusia dalam mengelola emosi dan perasaan. Kecerdasan Emosi ini sangat berpengaruh dalam performace dan kecakapan emosi kita dalam bekerja, dan juga kemampuan diri kita dalam menghadapi suatu masalah. Seseorang yang memiliki Emosi yang buruk walaupun IQ nya besar, dia akan gagal dalam hidupnya dikarenakan tidak mampu mengontrol diri saat menghadapi suatu masalah. Kecerdasan emosi sudah menjadi suatu tolok ukur utama yang dicari oleh perusahaan pada pegawainya dan sering merupakan karakteristik penentu kesuksesan dalam kerja dan pembedaan kinerja dan performace suatu karyawan. Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mendapatkan dan menerapkan pengetahuan dari emosi diri dan emosi orang lain agar bisa lebih berhasil dan bisa mencapai kehidupan yang lebih memuaskan. Dalam psikotes pun kecerdasan emosi ini sering menjadi tolak ukur utama dalam merekrut pegawai, karena dengan kecerdasan emosi yang tinggi walaupun memiliki IQ yang rendah cenderung perusahaan merekrut pegawai yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi, karena kecerdasan IQ mudah untuk ditingkatkan dibandingkan kecerdasan emosi.
Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional. Dari nama tehnis itu ada yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaatKarena kecerdasan emosi ini lebih ditekankan kepada jati diri dan emosi kita. Walaupun emosi dapat dikontrol dengan mengikuti pelatihan-pelatihan seperti ESQ dan lainnya, tetapi butuh kesadaran tinggi untuk mengontrol emosi kita ini.
3. Spiritual Qoutient (SQ)
Kecerdasan Spiritual ini berkaitan dengan keyakinan kita kepada Tuhan.Kecerdasan ini muncul apabila kita benar-benar yakin atas segala ciptaannya dan segala kuasanya kepada manusia (bukan atheis).
Danah Zohar, penggagas istilah tehnis SQ (Kecerdasan Spiritual) dikatakan bahwa kalau IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’ ( Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence: 2001). Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi ter-kavling-kavling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber – SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.
4. Moral Quotient (MQ)
Nilai, filosofi, dan kumpulan kecerdasan moral memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap bisnis. Hal tersebut merupakan dasar dari visi, tujuan, dan budaya organisasi. Tantangan dari kecerdasan moral bukan hanya untuk mengetahui yang benar dan yang salah, namun juga untuk berbuat serta melakukan tindakan yang benar. Pada segolongan populasi manusia terdapat sekelompok manusia dengan jumlah prosentase yang kecil menderita, mengalami sakit jiwa ataupun terkucil. Kelompok ini kemungkinan tidak “mengerti” yang benar dan yang salah. Mengapa kita tidak lebih sering melakukan tindakan yang tepat? Kebanyakan orang melakukan tindakan yang tepat kadang-kadang saja. Bertindak atas setiap keputusan yang kita buat setiap hari, mempertimbangkan apa yang “benar”, apa yang lebih baik dan dapat membantu komunitas kita, organisasi, dan orang lain. Namun kita tidak selalu setuju dengan apa yang benar.
Dalam hal ini nilai dan filosofi turut berperan. Penilaian kita menjadi dasar dalam percaya dan menentukan tindakan. Filosofi merupakan jalan bagi kita untuk menentukan nilai. Filosofi yang cerdas merupakan keinginan untuk memahami manusia, benda, dan dunia melalui rangkaian kata yang menggambarkan bagaimana mereka bekerja dengan demikian menyediakan suatu keamanan emosional dalam meramalkan masa depan. Manusia dengan filosofi mempercayakan pada logika dalam membuat keputusan, dan menaksirkan harga dari sesuatu melawan “kode” yang mendasar atau mengatur garis pedoman yang menyebabkan ketegangan. Manusia dengan pandangan ini mempercayakan pada kesadaran persaingan, terkadang pada wewenang sosial yang terpisah. Anda mungkin pernah mendengar perkataan seseorang dengan filosofi yang cerdas, contohnya: “jika anda memiliki solusi yang luwes, orang lain akan mempercayainya. Tidak perlu mencoba untuk meyakinkan mereka mengenai kebaikannya.” Mereka dapat menggunakan sebuah gaya kemimpinan, jika visi yang digambarkan menjadi penyebab yang baik di masa depan.
Dalam hipotesa penelitian ini ditemukan bahwa terdapat hal lebih mendasar dari kemampuan kecerdasan emosional. Hal tersebut tampak semacam kompas moral. Hal tersebut merupakan jantung dari kesuksesan bisnis yang berjalan lama. “Sesuatu yang lebih” ini dinamakan kecerdasan moral (moral intelligence). Kecerdasan moral merupakan kapasitas mental untuk menentukan bagaimana prinsip umum manusia yang harus digunakan pada nilai, tujuan, dan tindakan. Istilah yang mudah, kecerdasan moral merupakan kemampuan untuk membedakan yang benar dari yang salah seperti yang didefinisikan oleh prinsip umum. Prinsip umum merupakan kepercayaan mengenai tingkah laku manusia secara umum pada seluruh budaya di dunia.
Kecerdasan moral bukan hanya penting untuk mengefektifkan kepemimpinan, namun juga merupakan “pusat kecerdasan” bagi seluruh manusia. Mengapa? Karena kecerdasan moral secara langsung mendasari kecerdasan manusia untuk berbuat sesuatu yang berguna. Kecerdasan moral memberikan hidup manusia memiliki tujuan. Tanpa kecerdasan moral, kita tidak dapat berbuat sesuatu dan peristiwa-peristiwa yang menjadi pengalaman jadi tidak berarti. Tanpa kecerdasan moral kita tidak akan tahu mengapa pekerjaan yang kita lakukan? Dan apa yang harus dikerjakan?
5. Adversity Quotient
Ketika akhirnya Thomas Alva Edison (1847 - 1931) berhasil menemukan baterai yang ringan dan tahan lama, dia telah melewati 50.000 percobaan dan bekerja selama 20 tahun. Tak heran kalau ada yang bertanya, “Mr. Edison, Anda telah gagal 50.000 kali, lalu apa yang membuat Anda yakin bahwa akhirnya Anda akan berhasil?” Secara spontan Edison langsung menjawab, “Berhasil? Bukan hanya berhasil, saya telah mendapatkan banyak hasil.
Apakah adversity quotient (AQ) itu? Menurut Stoltz, AQ adalah kecerdasan untuk mengatasi kesulitan. “AQ merupakan faktor yang dapat menentukan bagaimana, jadi atau tidaknya, serta sejauh mana sikap, kemampuan dan kinerja Anda terwujud di dunia,” tulis Stoltz. Pendek kata, orang yang memiliki AQ tinggi akan lebih mampu mewujudkan cita-citanya dibandingkan orang yang AQ-nya lebih rendah.
Untuk memberikan gambaran, Stoltz meminjam terminologi para pendaki gunung. Dalam hal ini, Stoltz membagi para pendaki gunung menjadi tiga bagian:
1. Quitter (yang menyerah). Para quitter adalah para pekerja yang sekadar untuk bertahan hidup). Mereka ini gampang putus asa dan menyerah di tengah jalan
2. Camper (berkemah di tengah perjalanan) Para camper lebih baik, karena biasanya mereka berani melakukan pekerjaan yang berisiko, tetapi tetap mengambil risiko yang terukur dan aman. “Ngapain capek-capek” atau “segini juga udah cukup” adalah moto para campers. Orang-orang ini sekurang-kurangnya sudah merasakan tantangan, dan selangkah lebih maju dari para quitters. Sayangnya banyak potensi diri yang tidak teraktualisasikan, dan yang jelas pendakian itu sebenarnya belum selesai.
3. climber (pendaki yang mencapai puncak). Para climber, yakni mereka, yang dengan segala keberaniannya menghadapi risiko, akan menuntaskan pekerjaannya. Mereka mampu menikmati proses menuju keberhasilan, walau mereka tahu bahwa akan banyak rintangan dan kesulitan yang menghadang. Namun, di balik kesulitan itu ia akan mendapatkan banyak kemudahan.”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Dalam konteks ini, para climber dianggap memiliki AQ tinggi. Dengan kata lain, AQ membedakan antara para climber, camper, dan quitter.
Jawaban luar biasa dari pencipta lampu pijar itu menjadi salah satu contoh ekstrem seorang climber (pendaki)–yang dianggap memiliki kecerdasan mengatasi kesulitan (adversity quotient, AQ) tinggi. Terminologi AQ memang tidak sepopuler kecerdasan emosi (emotional quotient) milik Daniel Goleman, kecerdasan finansial (financial quotient) milik Robert T. Kiyosaki, atau kecerdasan eksekusi (execution quotient) karya Stephen R. Covey. AQ ternyata bukan sekadar anugerah yang bersifat given. AQ ternyata bisa dipelajari. Dengan latihan-latihan tertentu, setiap orang bisa diberi pelatihan untuk meningkatkan level AQ-nya. Manusia sejati adalah manusia yang jika menempuh perjalanan yang sulit, mereka selalu optimis; sedangkan jika mereka melewati perjalanan yang mudah mereka malah khawatir.
Dalam kehidupan nyata, hanya para climbers-lah yang akan mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan sejati. Sebuah penelitian yang dilakukan Charles Handy-seorang pengamat ekonomi kenamaan asal Inggris terhadap ratusan orang sukses di Inggris memperlihatkan bahwa mereka memiliki tiga karakter yang sama. Yaitu, pertama, mereka berdedikasi tinggi terhadap apa yang tengah dijalankannya. Dedikasi itu bisa berupa komitmen, kecintaan atau ambisi untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. Kedua, mereka memiliki determinasi. Kemauan untuk mencapai tujuan, bekerja keras, berkeyakinan, pantang menyerah dan kemauan untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Dan ketiga, selalu berbeda dengan orang lain. Orang sukses memakai jalan, cara atau sistem bekerja yang berbeda dengan orang lain pada umumnya. Dua dari tiga karakter orang sukses yang diungkapkan Handy dalam The New Alchemist tersebut erat kaitannya dengan kemampuan seseorang dalam menghadapi tantangan
Dalam dunia kerja, mengapa para karyawan yang ber-IPK tinggi kalah bersaing dibandingkan para karyawan lain yang ber-IPK rendah tetapi lebih berani dalam bertindak?
Kecerdasan Pikiran ini merupakan kecerdasan yang bertumpu kemampuan otak kita untuk berpikir dalam menyelesaikan masalah. Jika kita mengikuti Psikotes, ada banyak soal yang menuntut kejelian pikiran kita untuk menjawabnya, misalnya soal mengenai delik ruang seperti bentuk ruang kubus yang diputar-putar akan menjadi seperti apa. Soal ini bertujuan untuk melihat kemampuan pikiran kita dalam menyelesaikan suatu masalah dari berbagai sisi.
Sudah bertahun-tahun dunia akademik, dunia militer (sistem rekrutmen dan promosi personel militer) dan dunia kerja, menggunakan IQ sebagai standar mengukur kecerdasan seseorang. Tetapi namanya juga temuan manusia, istilah tehnis yang berasal dari hasil kerja Alfred Binet ini (1857 – 1911) lama kelamaan mendapat sorotan dari para ahli dan mereka mencatat sedikitnya ada dua kelemahan (bukan kesalahan) yang menuntut untuk diperbaruhi, yaitu:
a. Pemahaman absolut terhadap skor IQ
Steve Hallam berpandangan, pendapat yang menyatakan kecerdasan manusia itu sudah seperti angka mati dan tidak bisa diubah, adalah tidak tepat. Penemuan modern menunjuk pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu hanya 42% yang dibawa dari lahir, sementara sisanya, 58% merupakan hasil dari proses belajar.
b. Cakupan kecerdasan manusia : kecerdasan nalar, matematika dan logika
Steve Hallam sekali lagi mengatakan bahwa pandangan tersebut tidaklah tepat, sebab dewasa ini makin banyak pembuktian yang mengarah pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu bermacam-macam. Buktinya, Michael Jordan dikatakan cerdas selama berhubungan dengan bola basket. Mozart dikatakan cerdas selama berurusan dengan musik. Mike Tyson dikatakan cerdas selama berhubungan dengan ring tinju.
2. Emotional Quotient (EQ)
Disebut juga kecerdasan Emosi. Kecerdasan Emosi ini didasarkan kepada kemampuan manusia dalam mengelola emosi dan perasaan. Kecerdasan Emosi ini sangat berpengaruh dalam performace dan kecakapan emosi kita dalam bekerja, dan juga kemampuan diri kita dalam menghadapi suatu masalah. Seseorang yang memiliki Emosi yang buruk walaupun IQ nya besar, dia akan gagal dalam hidupnya dikarenakan tidak mampu mengontrol diri saat menghadapi suatu masalah. Kecerdasan emosi sudah menjadi suatu tolok ukur utama yang dicari oleh perusahaan pada pegawainya dan sering merupakan karakteristik penentu kesuksesan dalam kerja dan pembedaan kinerja dan performace suatu karyawan. Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mendapatkan dan menerapkan pengetahuan dari emosi diri dan emosi orang lain agar bisa lebih berhasil dan bisa mencapai kehidupan yang lebih memuaskan. Dalam psikotes pun kecerdasan emosi ini sering menjadi tolak ukur utama dalam merekrut pegawai, karena dengan kecerdasan emosi yang tinggi walaupun memiliki IQ yang rendah cenderung perusahaan merekrut pegawai yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi, karena kecerdasan IQ mudah untuk ditingkatkan dibandingkan kecerdasan emosi.
Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional. Dari nama tehnis itu ada yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaatKarena kecerdasan emosi ini lebih ditekankan kepada jati diri dan emosi kita. Walaupun emosi dapat dikontrol dengan mengikuti pelatihan-pelatihan seperti ESQ dan lainnya, tetapi butuh kesadaran tinggi untuk mengontrol emosi kita ini.
3. Spiritual Qoutient (SQ)
Kecerdasan Spiritual ini berkaitan dengan keyakinan kita kepada Tuhan.Kecerdasan ini muncul apabila kita benar-benar yakin atas segala ciptaannya dan segala kuasanya kepada manusia (bukan atheis).
Danah Zohar, penggagas istilah tehnis SQ (Kecerdasan Spiritual) dikatakan bahwa kalau IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’ ( Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence: 2001). Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi ter-kavling-kavling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber – SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.
4. Moral Quotient (MQ)
Nilai, filosofi, dan kumpulan kecerdasan moral memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap bisnis. Hal tersebut merupakan dasar dari visi, tujuan, dan budaya organisasi. Tantangan dari kecerdasan moral bukan hanya untuk mengetahui yang benar dan yang salah, namun juga untuk berbuat serta melakukan tindakan yang benar. Pada segolongan populasi manusia terdapat sekelompok manusia dengan jumlah prosentase yang kecil menderita, mengalami sakit jiwa ataupun terkucil. Kelompok ini kemungkinan tidak “mengerti” yang benar dan yang salah. Mengapa kita tidak lebih sering melakukan tindakan yang tepat? Kebanyakan orang melakukan tindakan yang tepat kadang-kadang saja. Bertindak atas setiap keputusan yang kita buat setiap hari, mempertimbangkan apa yang “benar”, apa yang lebih baik dan dapat membantu komunitas kita, organisasi, dan orang lain. Namun kita tidak selalu setuju dengan apa yang benar.
Dalam hal ini nilai dan filosofi turut berperan. Penilaian kita menjadi dasar dalam percaya dan menentukan tindakan. Filosofi merupakan jalan bagi kita untuk menentukan nilai. Filosofi yang cerdas merupakan keinginan untuk memahami manusia, benda, dan dunia melalui rangkaian kata yang menggambarkan bagaimana mereka bekerja dengan demikian menyediakan suatu keamanan emosional dalam meramalkan masa depan. Manusia dengan filosofi mempercayakan pada logika dalam membuat keputusan, dan menaksirkan harga dari sesuatu melawan “kode” yang mendasar atau mengatur garis pedoman yang menyebabkan ketegangan. Manusia dengan pandangan ini mempercayakan pada kesadaran persaingan, terkadang pada wewenang sosial yang terpisah. Anda mungkin pernah mendengar perkataan seseorang dengan filosofi yang cerdas, contohnya: “jika anda memiliki solusi yang luwes, orang lain akan mempercayainya. Tidak perlu mencoba untuk meyakinkan mereka mengenai kebaikannya.” Mereka dapat menggunakan sebuah gaya kemimpinan, jika visi yang digambarkan menjadi penyebab yang baik di masa depan.
Dalam hipotesa penelitian ini ditemukan bahwa terdapat hal lebih mendasar dari kemampuan kecerdasan emosional. Hal tersebut tampak semacam kompas moral. Hal tersebut merupakan jantung dari kesuksesan bisnis yang berjalan lama. “Sesuatu yang lebih” ini dinamakan kecerdasan moral (moral intelligence). Kecerdasan moral merupakan kapasitas mental untuk menentukan bagaimana prinsip umum manusia yang harus digunakan pada nilai, tujuan, dan tindakan. Istilah yang mudah, kecerdasan moral merupakan kemampuan untuk membedakan yang benar dari yang salah seperti yang didefinisikan oleh prinsip umum. Prinsip umum merupakan kepercayaan mengenai tingkah laku manusia secara umum pada seluruh budaya di dunia.
Kecerdasan moral bukan hanya penting untuk mengefektifkan kepemimpinan, namun juga merupakan “pusat kecerdasan” bagi seluruh manusia. Mengapa? Karena kecerdasan moral secara langsung mendasari kecerdasan manusia untuk berbuat sesuatu yang berguna. Kecerdasan moral memberikan hidup manusia memiliki tujuan. Tanpa kecerdasan moral, kita tidak dapat berbuat sesuatu dan peristiwa-peristiwa yang menjadi pengalaman jadi tidak berarti. Tanpa kecerdasan moral kita tidak akan tahu mengapa pekerjaan yang kita lakukan? Dan apa yang harus dikerjakan?
5. Adversity Quotient
Ketika akhirnya Thomas Alva Edison (1847 - 1931) berhasil menemukan baterai yang ringan dan tahan lama, dia telah melewati 50.000 percobaan dan bekerja selama 20 tahun. Tak heran kalau ada yang bertanya, “Mr. Edison, Anda telah gagal 50.000 kali, lalu apa yang membuat Anda yakin bahwa akhirnya Anda akan berhasil?” Secara spontan Edison langsung menjawab, “Berhasil? Bukan hanya berhasil, saya telah mendapatkan banyak hasil.
Apakah adversity quotient (AQ) itu? Menurut Stoltz, AQ adalah kecerdasan untuk mengatasi kesulitan. “AQ merupakan faktor yang dapat menentukan bagaimana, jadi atau tidaknya, serta sejauh mana sikap, kemampuan dan kinerja Anda terwujud di dunia,” tulis Stoltz. Pendek kata, orang yang memiliki AQ tinggi akan lebih mampu mewujudkan cita-citanya dibandingkan orang yang AQ-nya lebih rendah.
Untuk memberikan gambaran, Stoltz meminjam terminologi para pendaki gunung. Dalam hal ini, Stoltz membagi para pendaki gunung menjadi tiga bagian:
1. Quitter (yang menyerah). Para quitter adalah para pekerja yang sekadar untuk bertahan hidup). Mereka ini gampang putus asa dan menyerah di tengah jalan
2. Camper (berkemah di tengah perjalanan) Para camper lebih baik, karena biasanya mereka berani melakukan pekerjaan yang berisiko, tetapi tetap mengambil risiko yang terukur dan aman. “Ngapain capek-capek” atau “segini juga udah cukup” adalah moto para campers. Orang-orang ini sekurang-kurangnya sudah merasakan tantangan, dan selangkah lebih maju dari para quitters. Sayangnya banyak potensi diri yang tidak teraktualisasikan, dan yang jelas pendakian itu sebenarnya belum selesai.
3. climber (pendaki yang mencapai puncak). Para climber, yakni mereka, yang dengan segala keberaniannya menghadapi risiko, akan menuntaskan pekerjaannya. Mereka mampu menikmati proses menuju keberhasilan, walau mereka tahu bahwa akan banyak rintangan dan kesulitan yang menghadang. Namun, di balik kesulitan itu ia akan mendapatkan banyak kemudahan.”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Dalam konteks ini, para climber dianggap memiliki AQ tinggi. Dengan kata lain, AQ membedakan antara para climber, camper, dan quitter.
Jawaban luar biasa dari pencipta lampu pijar itu menjadi salah satu contoh ekstrem seorang climber (pendaki)–yang dianggap memiliki kecerdasan mengatasi kesulitan (adversity quotient, AQ) tinggi. Terminologi AQ memang tidak sepopuler kecerdasan emosi (emotional quotient) milik Daniel Goleman, kecerdasan finansial (financial quotient) milik Robert T. Kiyosaki, atau kecerdasan eksekusi (execution quotient) karya Stephen R. Covey. AQ ternyata bukan sekadar anugerah yang bersifat given. AQ ternyata bisa dipelajari. Dengan latihan-latihan tertentu, setiap orang bisa diberi pelatihan untuk meningkatkan level AQ-nya. Manusia sejati adalah manusia yang jika menempuh perjalanan yang sulit, mereka selalu optimis; sedangkan jika mereka melewati perjalanan yang mudah mereka malah khawatir.
Dalam kehidupan nyata, hanya para climbers-lah yang akan mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan sejati. Sebuah penelitian yang dilakukan Charles Handy-seorang pengamat ekonomi kenamaan asal Inggris terhadap ratusan orang sukses di Inggris memperlihatkan bahwa mereka memiliki tiga karakter yang sama. Yaitu, pertama, mereka berdedikasi tinggi terhadap apa yang tengah dijalankannya. Dedikasi itu bisa berupa komitmen, kecintaan atau ambisi untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. Kedua, mereka memiliki determinasi. Kemauan untuk mencapai tujuan, bekerja keras, berkeyakinan, pantang menyerah dan kemauan untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Dan ketiga, selalu berbeda dengan orang lain. Orang sukses memakai jalan, cara atau sistem bekerja yang berbeda dengan orang lain pada umumnya. Dua dari tiga karakter orang sukses yang diungkapkan Handy dalam The New Alchemist tersebut erat kaitannya dengan kemampuan seseorang dalam menghadapi tantangan
Dalam dunia kerja, mengapa para karyawan yang ber-IPK tinggi kalah bersaing dibandingkan para karyawan lain yang ber-IPK rendah tetapi lebih berani dalam bertindak?
Rabu, 13 Februari 2013
Senin, 04 Februari 2013
REDENOMINASASI
Ternyata Redenominasi rupiah Rp 1000 diubah menjadi Rp 1 menuai keberatan banyak pihak, antara lain sbb:
1) Bupati Pulau Seribu keberatan kalau menjadi Bupati Pulau Satu.
2) Marga Pasaribu di Tapanuli keberatan kalau harus menjadi Marga Pasar Satu.
3) Ahli bahasa tidak setuju kalau ungkapan "mengambil langkah seribu" menjadi "mengambil langkah satu", atau "seribu janji" menjadi "satu janji".
4) Sastrawan keberatan kalau sajak Chairil Anwar yg berbunyi "aku ingin hidup seribu tahun lagi" dirubah jadi "aku ingin hidup satu tahun lagi".
5) Para da'i sejuta umat tidak mau diganti menjadi da'i seribu umat.
6) Biolog tidak setuju binatang kaki seribu diganti menjadi binatang kaki satu.
7) Titiek Puspa keberatan kalau lirik lagu "jatuh cinta sejuta rasanya" diganti jadi hanya "seribu rasanya"...:
8) Para artis tidak setuju acara malam sejuta bintang dikurangi jadi malam seribu bintang. :
9) Para jutawan tidak mau disebut ribuwan...
10) Masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak mau mengganti "nyuwun sewu" jadi "nyuwun setunggal".
11) Yang Jelas juga akan di Tolak mentah2 oleh Fraksi PDI-P karena gak rela Megawati jadi Kilowati..
1) Bupati Pulau Seribu keberatan kalau menjadi Bupati Pulau Satu.
2) Marga Pasaribu di Tapanuli keberatan kalau harus menjadi Marga Pasar Satu.
3) Ahli bahasa tidak setuju kalau ungkapan "mengambil langkah seribu" menjadi "mengambil langkah satu", atau "seribu janji" menjadi "satu janji".
4) Sastrawan keberatan kalau sajak Chairil Anwar yg berbunyi "aku ingin hidup seribu tahun lagi" dirubah jadi "aku ingin hidup satu tahun lagi".
5) Para da'i sejuta umat tidak mau diganti menjadi da'i seribu umat.
6) Biolog tidak setuju binatang kaki seribu diganti menjadi binatang kaki satu.
7) Titiek Puspa keberatan kalau lirik lagu "jatuh cinta sejuta rasanya" diganti jadi hanya "seribu rasanya"...:
8) Para artis tidak setuju acara malam sejuta bintang dikurangi jadi malam seribu bintang. :
9) Para jutawan tidak mau disebut ribuwan...
10) Masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak mau mengganti "nyuwun sewu" jadi "nyuwun setunggal".
11) Yang Jelas juga akan di Tolak mentah2 oleh Fraksi PDI-P karena gak rela Megawati jadi Kilowati..
BEDA NIKAH SAMA KAWIN
Beda nikah ame kawin...:
• Nikah ngundang banyak orang,
• Kawin hanya ingin berduaan
• Nikah berarti menyatukan orang yg beda.
• Kawin berarti menyatukan kelamin yg beda
• Nikah berarti menyebarkan undangan.
• Kawin menyebarkan "benih"
• Nikah pake busana bagus, didandanin.
• Kawin tanpa busana, saling menelanjangin
• Nikah butuh Surat,
• Kawin butuh Urat
• nikah pake resepsi,
• kl kawin pake kontrasepsi
Ada lagi yg mau nambahin ? Monggo
• Nikah ngundang banyak orang,
• Kawin hanya ingin berduaan
• Nikah berarti menyatukan orang yg beda.
• Kawin berarti menyatukan kelamin yg beda
• Nikah berarti menyebarkan undangan.
• Kawin menyebarkan "benih"
• Nikah pake busana bagus, didandanin.
• Kawin tanpa busana, saling menelanjangin
• Nikah butuh Surat,
• Kawin butuh Urat
• nikah pake resepsi,
• kl kawin pake kontrasepsi
Ada lagi yg mau nambahin ? Monggo
Fokus
"Salah satu alasan begitu sedikit orang yang meraih apa
yang diinginkannya adalah karena kita
tidak pernah fokus; kita tidak pernah konsentrasi pada
kekuatan kita. Kebanyakan orang hanya mencoba-coba berbagai macam jalan dalam
hidup mereka. Mereka tidak pernah memutuskan untuk menguasai suatu bidang
khusus" - Tony Robbins
Dear Anda,
Masih ingatkah Anda percobaan membakar sebuah kertas dengan
kaca pembesar ketika masih sekolah
dulu? Kertas itu terbakar setelah
kaca pembesar berhasil memfokuskan sinar
matahari pada satu titik. Kita pun demikian!
Manusia sebenarnya diciptakan Tuhan dengan potensi yang
tidak terbatas. Tapi kenyataannya,
sedikit saja orang yang berusaha
mencapainya. Kita memang dapat melakukan
apa saja, tetapi kita tidak selalu dapat
mengerjakan semua.
Membiarkan orang lain memutuskan agenda Anda dalam hidup
ini, membuat Anda tidak fokus pada tujuan hidup. Anda mungkin bisa
menjadi orang yang mengerjakan banyak hal, tetapi tidak dapat menguasai
sepenuhnya.
Sebaiknya hindari menjadi orang yang mampu
mengerjakan beberapa pekerjaan, tetapi
fokuslah pada satu keahlian.
Anda, bertumbuhlah untuk mencapai potensi maksimal dengan
cara:
1.
Fokus pada satu sasaran utama
2.
Fokus pada peningkatan yang berkesinambungan
3.
Fokus pada masa depan, bukan masa lalu
Fokus pada kekuatanmu dan kembangkan kekuatan itu. Di
sanalah Anda harus mencurahkan waktu,
energi dan sumber daya Anda. Teruslah
bertumbuh dan tingkatkan diri. Dalam
kepemimpinan, jika Anda berhenti bertumbuh, habislah Anda.
Kamis, 31 Januari 2013
APA YANG TERPENTING DALAM BISNIS
Bisnis bisa berjalan,
berkembang, maju pesat tanpa pemimpin (owner). Ada komponen penting yang
dibutuhkan untuk membangun bisnis yang sukses tanpa owner.
Komponen yang menjadikan
bisnis berjalan tanpa Owner
Banyak diantara Anda yang mengimpikan bisnis
berjalan tanpa adanya pemimpin (owner). Bisnis yang berjalan tanpa adanya owner
yang terlibat didalamnya. Ada beberapa komponen yang harus Anda dalam bisnis
tersebut, seperti
Sistem
Ini yang harus lebih utama, adanya sistem yang
owner tidak terkait dalam sistem tersebut, seperti
a. Sistem marketing
Anda harus mempunyai tim marketing yang tanpa
Anda, setting tim marketing yang sudah ahli atau undang trainer untuk membuat
tim sales lebih dahsyat
b. Sistem kontrol
Anda pegang kontrolnya, mulai dari
keuangannya, produksi. Yang hanya Anda terima berupa laporan-laporan
c. Sistem SDM
Buat sistem atau kriteria dalam sistem rekrut
Anda, agar SDM mempunyai keterampilan yang sudah ahli dibidangnya.
Teknologi
Teknologi harus ada dalam bisnis, teknologi
seperti apa yang harus ada :
a. Mudah
Teknologi yang mendukung dalam bisnis haruslah
mudah, jangan sampai teknologi membuat Anda susah. Ini akan manjadi penghambat
dalam bisnis Anda.
b. Cepat
Selain mudah harus cepat, sehingga proses
kerja akan lebih efisien dalam waktu
c. Akurat
Selain mudah dan cepat harus juga akurat.
Manusia
Ini lah yang paling penting. Karena dalam
sistem dan teknologi, manusia lah yang menjalaninya. Ada 3 yang harus ada
didalam orang yang akan Anda rekrut tersebut, seperti :
a. Passion
Semangat, bergairah ini yang harus ada.
Semangat kerja yang harus ada dalam bisnis tersebut
b. Integrity
Ini harus lebih ditonjolkan, integrity atau
kepercayaan. Bagaimana kalau orang tersebut tidak jujur. Harus mempunyai
integrity
c. Skill
Pengetahuan yang luas, ini juga perlu.
MENENTUKAN PILIHAN
Kehidupan adalah soal pilihan, dan setiap pilihan yang
Anda buat akan berpengaruh besar
terhadap diri Anda sendiri.
Pekerjaan apa yang Anda pilih? Dengan siapa Anda menikah? Di mana Anda tinggal? Apa yang Anda lakukan hari ini? Tetapi satu pilihan yang paling penting
adalah akan menjadi siapa Anda?
Oleh sebab itu ......
Pilihlah kata-kata yang Anda ucapkan. Kata-kata dapat mempengaruhi pikiran. Anda dan bisa berdampak pada orang lain. Semakin positif kata-kata yang Anda ucapkan, semakin positif kenyataan hasilnya.
Pilihlah apa yang hendak Anda pikirkan. Pikiran kita menciptakan kesempatan yang kita bahkan tidak
tahu akan pernah
ada. Pilihlah respon dan reaksi terhadap
segala sesuatu yang terjadi pada Anda.
Perjalanan hidup tidak selalu mulus.
Sandungan, kepahitan dan sakit hati mungkin pernah Anda alami. Tapi Anda punya
pilihan bagaimana merespon peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup ini.
Kita mungkin tidak bias mengendalikan hal-hal yang terjadi pada diri kita, tetapi kita dapat memilih dan
mengendalikan pikiran yang akhirnya membentuk sikap kita.
Selasa, 29 Januari 2013
BERTAHAN UNTUK PERUBAHAN
"Orang-orang yang luar biasa bertahan dalam situasi yang sangat sulit, dan mereka menjadi semakin luar biasa karena itu" - Robertson Davies
Hidup ini terlalu berharga, jika Anda hanya menjalani 'gaya hidup bertahan saja' dalam jangka waktu lama.
Kadang-kadang kita memang mengalami masa-masa sulit. Masalah datang silih berganti. Ekonomi yang jatuh, bisnis yang melambat, kesehatan yang melemah, dan hubungan yang mungkin mengalami masa-masa sulit.
Buatlah keputusan, bahwa apa pun yang menimpa Anda, betapapun sukarnya, betapa pun tidak adilnya, Anda akan melakukan lebih banyak lagi dari sekedar hanya bertahan hidup. Anda
akan berkembang pesat walaupun semua itu terjadi.
Ibarat sebuah musim kemarau yang berganti dengan musim hujan. Allah SWT pun telah menyiapkan sebuah musim baru untuk Anda. Allah SWT memiliki hal-hal luar biasa untuk Anda di masa depan. Allah SWT memiliki pintu-pintu baru yang ingin Anda membukanya. Ia menginginkan kehidupan Anda lebih baik daripada sebelumnya.
Mentalitas bertahan hidup hanya akan menghalangi Anda mencapai hal terbaik dari Allah SWT.
Jika harapan Anda selalu kurang, Anda pun akan mendapatkan yang kurang. Tetapi jika Anda berharap berkah yang lebih besar lagi, Allah SWT akan meningkatkan hidup Anda dengan cara yang lebih hebat lagi.
Apa yang terjadi pada kita, seburuk apapun itu, tidak akan menghalangi kekuasaan-Nya. Tetapi terkadang pikiran kitalah yang justru menghalangi kekuasaan Allah SWT pada kita. Tetaplah beriman, yakinlah Anda akan mendapatkan kemurahan Allah SWT yang tak terduga!
Langganan:
Postingan (Atom)



